Senin, 15 Februari 2016

Perkataan Para Imam Tentang pentingnya mendahulukan Sunnah


                   بسم الله الرحمن الرحيم
  اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إ براهيم انك حميد مجيد


Kali ini Coretan Akmal akan membahas tentang Perkataan Para Imam Sekitar Mengikuti Sunnah dan Meninggalkan Pendapat-Pendapat mereka yang Bertentangan Dengannya. 

Mudah-mudahan menjadi nasihat dan pengingat hususnya bagi diri saya sendiri dan umumnya bagi orang orang yang mengikuti mereka serta menjadikan pendapat-pendapat mereka jadi bahan Rujukan dalam menjalan kan agama,

"Terlebih lagi  kepada orang orang yg taqlid buta, yang berpegang kepada pendapat-pendapat mereka seakan-akan pendapat mereka itu datang dari langit, sedangkan Alloh taala berfirman dalam surat al-A’roof ayat 3  "اتبعواما أنزل اليكم من ربكم ولا تتبعوا من دونه اولياء قليلا ما تذكرون  
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran

Inilah perkataan para imam tentang lebih utamanya mengikuti sunnah, di banding dengan pendapat pendapat mereka."


1. Abu Hanifah

Yang pertama adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit.
Telah diriwayatkan darinya pendapat pendapat dan ungkapan-ungkapan beragam yang semuanya bermuara pada satu makna. Yaitu kewajiban mengambil hadits sebagai dalil dan meninggalakan pendapat pendapat yang bertentangan dengannya.

a. Bila suatu hadits itu benar maka itulah mazhabku
b. Tidak dibolehkan bagi seseoragn untuk mengambil pendapat kami bila tidak mengetahui darimana kami mengambilnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan ”Haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku berfatwa dengan pendapat saya”

Dalam riwayat lain ditambahkan ”Sesungguhnya kita adalah manusia yang mengemukakan pendapat hari ini dan berubah pendapat pada keesokan harinya”. Disebutkan juga dalam riwayat lain
 ”Apa-apaan engkau wahai Ya’kukb! (Abu Yusuf), jangan engkau tulis semua yang kau dengar dariku. Karena aku mengemukakan pendapat hari ini dan keesokan harinya mungkin aku meninggalkannya. Besok aku berpendapat sesuatu dan lusanya aku tinggalkan”

c. Apabila aku mengemukakan suatu pendapat yang bertentangn dengan kitab Alloh dan khobar
dari Rosululloh shollallohu alaihi wasallam, hendaknya kalian meninggalkan pendapatku.

2. Malik bin Anas

Ia berkata sebagai berikut.
a. Sesungguhnya aku adalah manusia yang terkadang salah dan terkadang benar,maka lihatlah pendapatku. Apabila sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah maka ambillah. Setiap yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah, tinggalkan.

b. Setiap perkataan orang boleh dipakai atau ditinggalkan kecuali perkataan Nabi shollalohu alaihi wasallam.

c. Ibu Wahab berkata : ”Aku mendengar Malik ditanya tentang menyela-nyela jari-jari kedua kaki dalam wudlu. Ia berkata ’Hal itu tidak wajib’. Lalu saya meninggalkannya sampai orang-orang yang mengelilinginya sedikit. Saya katakan kepadanya, ’Hal ini menurut kami sunnah’Malik bertanya ’Apahaditsnya?’
Saya menjawab ’Dikatakan Laits bin Sa’ad, Ibnu Luhai’ah dan Amru bin Harits, dari Yazid bin Amru al-Ma’afiri, dari Abu Abdurrahman al-Habli, dari al-Mustaurid bin Syadad al-Qurasyi, ia berkata ’Aku melihat Rosululloh shollallohu alaihi wasalam menggosokkan jari-jari manisnya pada cela-cela jari kedua kakinya’ Lalu Malik menyela ’Hadits ini hasan, aku tidak pernah mendengarnya kecuali sekarang ini.’ Kemudian di lain waktu ia ditanya dengan masalah yang sama dan ia menyuruh agar menyela-nyela jari-jari kedua kakinya.”

3. Imam Syafi’i

Ucapan Imam Syafi’i dalam masalah ini ni lebih banyak Para pengikutnya, harusnya lebih banyak pula yang mengamalkannya. "Diantara ucapannya adalah sebagai berikut. 

a. Tidak ada seorangpun yang bermazhab melainkan mazhab Rosululloh shollallohu alaihi wasallam Apapun pendapat yang saya kemukakan atau yang saya sarikan sedangkan terdapat hadits yang bertentangan dengan pendapatku maka yang benar adalah sabda Rosululloh shollallohu alaihi wasallam Itulah pendapatku.

b. Umat Islam telah berijma bahwa orang yang telah mengetahui sebuah hadits dari Rosululloh shollallohu alaihi wasallam maka tidak boleh meninggalkannya untuk mengambil pendapat seseorang. 

c. Jika kalian mendapati dalam kitabku yang bertentangan dengan sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wasallam maka ambillah sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wasallam dan tinggalkanlah pendapatku. 
Dalam sebuah riwayat dikatakan ’Maka ikutilah dan janganlah kalian mengikuti pendapat siapapun’

d. Bila sebuah hadits dinyatakan sohih, maka itulah mazhabku.
e. Kalian lebih mengetahui hadits dan rawi-rawinya daripada aku. Bila suatu hadits dinyatakan Shohih maka beritahukanlah kepadaku darimanapun asalnya, dari Kufah, Basroh atau Syam. Bila benar sohih aku akan menjadikannya mazhabku. 

f. Setiap masalah yang ada haditsnya dari Rosululloh shollallohu alaihi wasallam menurut ahli hadits yang bertentangan dengan pendapatku, niscaya aku cabut pendapatku baik selama aku masih hidup
atau setelah matiku.

g. Bila kalian melihatku mengemukakan suatu pendapat, dan ternyata ada hadits sohih yang bertentangan dengan pendapatku maka ketahuilah bahwa pendapatku tidak pernah ada

h. Semua yang aku ucapkan sedangkan ada hadits Rosululloh shollallohu alaihi wasallam yang sohih bertentangan
dengan pendapatku maka hendaknya diutamakan hadits Rosululloh shollallohu alaihi wasallam janganlah bertaklid kepadaku.

i. Setiap hadits yang sohih dari Rosululloh shollallohu alaihi wasalam adalah pendapatku, sekalipun kalian tidak mendengarnya dariku. 

4. Ahmad bin Hambal

Imam Hambali adalah seorang imam yang terbanyak mengumpulkan hadits dan yang paling teguh memegangnya. Bahkan ia tidak mau menyusun buku yang mencakup furu’ dan ro’yu. Karena itu ia berkata sebagai berikut.

a. Janganlah bertaklid kepadaku, Malik, Syafi’i, Auza’i dan tidak pula Tsuri, ambillah dari apa yang meraka ambil. Dalam sebuah riwayat dikatakan : Janganlah bertaklid dalam masalah
agama kepada para Imam, ikutilah apa yang dapat dari Rosululloh shollalohu alaihi wasallam dan para sahabatnya.
Sedangkan dari tabi’in boleh memilihnya (menolak atau menerima).

b. Al-Auza’i berpendapat, Malik berpendapat,dan Abu Hanifah berpendapat. Menurutku semuanya adalah ra’yu, sedangkan yang dapat dijadikan hujjah dalam masalah-masalah agama adala atsar (hadits). 

c. Barangsiapa menolak hadits Rosululloh shollallohu alaihi wasallam maka ia berada di tepi kehancuran.

"Demikian pendapat-pendapat para imam dalam masalah berpegang teguh pada hadits, dan larangan bertaklid tanpa pengetahuan. Masalahnya sangat jelas tanpa perlu perdebatan dan penakwilan. Yaitu barangsiapa berpegang teguh terhadap hadits, seklipun bertentangan dengan pendapat para imam, tidak berarti menyalahi pendapat mazhab yang dianut dan juga tidak berarti telah keluar dari jalan yang ditempuh mazhabnya. 
Bahkan dengan demikian telah mengikuti jalan dan pendapat para imam, telah berpegang pada tali yang kuat yang tidak dapat dipisahkan. Akan tetapi tidak demikian dengan sebaliknya. Barangsiapa yang meninggalkan sunnah yang sohih hanya dikarenakan telah berbeda dengan pendapat para imam maka bearti telah melanggar para imam dan telah menentang pendapat para imam."


Alloh azza wajalla  berfirman dalam
QS. an-Nisaa’ ayat 65  فلا وربك لايوءمنون حتى  يحكموك فماشجر بينهم ثم لايجدوا في انفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما
”Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga 
mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dangan sepenuhnya."

Begitupula  QS. An-Nur ayat 63 
فليحذرالذين يخالفون عن امره ان تصيبهم فتنة او يصيبهم عذاب اليم
”Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”

Al-Hafidz Ibnu Rojab 
berkata : Hendak-nya orang yang telah mengetahui hadits Rosululloh shollallohunalaihi wasallam menjelaskannya kepada umat, menasihatinya dan menyeru mereka mengikuti dan ber-ithba’ meski bertentangan dengan pendapat orang yang berpengaruh sekalipun. Sesungguhnya hagist Rosululloh shollallohu alaihi wasalam lebih layak untuk diagungkan dan diteladani daripada pendapat orang yang paling berpengaruh dan terkenal dikalangan umat yang berselisih pendapat, yang terkadang pendapat mereka itu salah. 
Berdasarkan hal inilah para sahabat dan generasi setelahnya menolak setiap pendapat yang bertentangan dengan sunnah yang sohih. 


"Semoga bermanfaat dan menjadi sarana perubahan dan lahan amal sholeh" آمين 



Di catat pada hari senin ba'da asar 
Sumber nukilan "kitab sifat sholat nabi "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar